Dattebayou ciku-ciku
Urmm........ Bahhh... buat corat-coret pokonya!!!
Jumat, 01 Oktober 2010
Minggu, 29 Agustus 2010
2. Senior menyebalkan (Renata)

Hari yang ditunggu-tunggu Renata akhirnya tiba. Dia tidak percaya akan sebegitu dekat dengan Januar, cowok yang ditaksirnya sejak SMP. Keputusunnya untuk masuk ekskul Paskib pastinya akan berdampak besar untuknya. Tapi ya.. biarlah segalanya adil dalam cinta dan perang katanya dalam hati sambil tersenyum.
“Ngapain lu senyam-senyum sendiri, aneh tahu,” kata Hermy.
“Ya ampun Hermy sayang, hari ini kan gua bakal ketemu sama my Januar,” kata Renata dengan mata bersinar-sinar.
“Tiap hari kan ketemu”
“Ini tuh beda tahuuu, lu sih enak sekelas sama dia, lha gue, jarak ampe tiga kelas gitu,” kata Renata lagi. Hermy dan Januar ditempatkan di kelas X-1 sedangkan Renata di kelas X-4.
“Emang bukan rezekinya lu kali. Udah yuk, entar diomelin sama sesepuh”, kata Hermy.
“Sesepuh?” kata Renata
“Sapa lagi kalo bukan kak Rara sama kak Oki, ampe mudeng gue dengernya” kata Hermy.
Mereka berdua pun meninggalkan toilet perempuan dan langsug berbaris ke lapangan.
Hari itu cuaca sangat panas. Keringat Renata tak mau berhenti keluar. Tapi anehnya, Renata melihat Hermy cuek-cuek saja, meskipun terlihat betul wajah Hermy sampai memerah saking panasnya. Renata yakin, tampangnya gak terlalu berbeda.
“Nah, ade-ade sekalian. Selamat datang di ekskul Paskibra SMA Harapan. Saat ini, kalian tengah berdiri di tengah lapangan yang akan menjadi saksi kesuksesan kalian kelak. Kalian telah tiba pada tahapan baru, tahapan dimana kalian dituntut untuk menjadi lebih baik dan lebih dewasa. Tetapi kebiasaan-kebiasaan lama yang memang dibutuhkan, akan kami bantu untuk lestarikan, sedangkan kebiasaan baru yang tidak disiplin, tanpa etika dan tidak bertanggung jawab akan kami pangkas. Selain itu, …,”
Renata tak sanggup lagi memperhatikan pidato panjang sesepuhnya. Fikirannya jauh melayang ke arah Januar di dua baris sebelah kanannya. Bagaimana Januar tersenyum, bagaimana Januar berjalan, bagaimana ia tampak keren dengan kaos olah raga dan celana trainingnya… Haaa.. Renata menghela nafas, bagaimana Januar bisa begitu menawan.
Sesekali ia melirik Hermy yang berdiri disebelahnya. Hermy tampaknya melahap semua perkataan senior itu. Tapi dia langsung mengernyit jika mendengar kata-kata yang tidak sesuai dengan seleranya.
Renata kemudian berfikir, sebenarnya mereka datang kemari untuk latihan atau untuk diceramahi sih?. Gak jelas mana yang bener.
“Renata Saputri !,” kata sebuah suara
Latihan ini bener-bener konyol. Hermy benar seharusnya dia tidak bergabung dengan ekskul ini. Gue juga konyol banget, fikir Renata.
“Renata Saputri !,” kata sebuah suara lagi
Hanya tentara barangkali yang bisa menyaingi cara latihan mereka. Mungkin latihan mereka bahkan lebih baik dibandingkan ini.
“RENATA SAPUTRI !!!!,”
“Apaan sih?!” kata Renata.
Semua mata melihat ke arah Renata. Dilihatnya sesepuh alias senior yang berpidato tadi melotot ke arahnya sambil menahan amarah.
“Kamu tidak memperhatikan perkataan saya?!!,” kata kak Rara kesal.
“Siap! Saya dengar kok kak,” kata Renata.
“Begitu ?” katanya gak percaya.
“Kalau begitu sekarang sebutkan tiga hal yang menjadikan seseorang menjadi paskibra!” perintah kak Rara galak.
Mampus gue, ngedengerin aja enggak. Dengan penuh harap dia melirik ke arah Hermy. Tapi tampaknya Hermy juga tidak bisa berbuat apa-apa. Apa boleh buat, kali ini Renata harus benar-benar memeras otaknya.
“Urm, kedisiplinan, kebersamaan dan … ,” kata Renata ngarang. Tiba-tiba dilihatnya Hermy melotot seolah berkata : Berhenti bicara sekarang!
“SALAH!!! Untuk menjadi paskibra hanya butuh satu hal. Mencintai bangsa dan negaranya. Jelas sekali kamu tidak mendengarkan kata-kata saya tadi, Push-up sekarang dua puluh kali” kata kak Rara murka.
Kali ini Renata benar-benar pasrah. Dengan enggan ia push up, meski rasanya sejak awal badannya sudah mau rontok.
1. Ini bukan pilihanku (Hermy)

Hermy menatap sinis, teman-teman barunya. Mereka yang laki-laki, memakai kalung cabe di sepanjang tali papan namanya dan memakai topi kerucut aneh warna biru. Sedangkan yang perempuan, rambutnya dikepang banyak dengan papan nama yang talinya penuh bawang, serta topi kerucut dari karton pink. Benar-benar aneh, pikirnya.
Hermy memang tidak suka segala sesuatu yang serba meriah semacam MOS. Dia lebih suka mengurung diri, menyetel music metal sampai sekeras-kerasnya di kamar. Diantara semua temannya, hanya dia yang tidak memakai semua ornamen yang suruh senior nya. Dia sudah tiga kali ditegur oleh seniornya selama MOS ini. Tapi tak satu pun yang benar-benar menghukumnya. Yah wajar saja, toh dia ini anak semata wayang kepala sekolah SMA Harapan.
Dia benci sekolah ini, bagus diluar tapi busuk di dalam ditambah lagi dengan sikap sok baik ayahnya, yang ingin terlihat sebagai kepala sekolah teladan. Dia ingin bebas dari kepura-puraan ini dan pergi ke SMA idamannya, SMA Pelita.
“Udah donk, Mi, bĂȘte mulu kerjaan lho,” kata Renata
“Berisik lu, gue lagi gak mood tau,” kata Hermy sinis.
“Emangnya sejak kapan lu pake mood-moodan gitu, bukanya tiap hari juga lu gak pernah mood,” kata Renata cekikikan. “Eh, liat ada Januar. Adu, ganteng banget,” kata Renata
“Lu masih ngebet sama tuh orang. Ceking kayak gitu juga,” bales Hermy.
“Yah, lu mah ngeliat tuh pake mata doank sii,” kata Renata sebal
“Terus apa? Pake hati lagi? Batin? Kalbu? Teropong? Atau Teleskop?,” balas Hermy.
“Nggak, pake sedotan hehe,” kata Renata lagi
Mereka berdua tertawa terbahak-bahak. Hermy memang sudah sahabatan sama Renata sejak SD, bisa dibilang Renata adalah satu-satunya. Meskipun Hermy tergolong pandai dan terampil dalam hampir setiap bidang, tapi dia tidak pandai bergaul. Sebagian besar orang menjauhinya karena sikapnya yang tidak ramah terhadap orang lain serta cenderung sinis dan sarkastik. Begitu lah Hermy, dia tak tahan harus pura-pura baik di depan orang.
Tapi Renata selalu baik padanya, meskipun Hermy seringkali bersikap buruk. Hermy sangat menyayangi temannya yang satu ini, yang meski kadang menyebalkan tapi seringkali menghiburnya saat ia sedang sedih.
Sifatnya dengan Renata sangat berbeda, Renata yang meskipun agak centil sangat popular terutama di kalangan cowok. Ia cantik dan selalu ceria. Mungkin itu yang menjadikannya popular, pikir Hermi agak iri.
“Eh, kira-kira Januar masuk ekskul apa ya?” kata Renata
“Paskib”, jawab Hermy cuek.
“Paskib?!, Paskibra maksud lo?,” kata Renata tidak percaya.
“Bokapnya kan polisi, lagian dia emang pengen banget dari dulu masuk paskibra,” kata Hermy, yang memang masih saudara dengan Januar.
“Lu tahu darimana? Waktu SMP kan dia aktif banget di tim baket sekolah, kenapa sekarang tiba-tiba mau ke paskib?”
“Mana gue tahu, terserah dia kan mau masuk mana”, kata Hermy
“Kalo gitu gue ikutan paskib juga ah”, kata Renata
Hermy memandang Renata tidak percaya. Seakan Renata baru memutuskan menjadi petinju.
“Lu ikutan paskib, orang cuma berdiri di lapangan juga lu suka pingsan,” kata Hermy.
“Kan terserah gue mau masuk mana hehe,” kata Renata cekikan, membalas Hermy.
Bel berbunyi menandakan waktu istirahat selesai. “Yuk, kita ke kelas,” kata Renata
Hermy pun mengikutinya ke kelas sambil menghela nafas. Dia tidak yakin bisa bertahan melewati tiga tahun di tempat ini. Dia bahkan tidak yakin bisa bertahan tiga jam ke depan.
The Secretary Defence : Ririn

YEE… Akhirnya, setelah bermeditasi dan terapi, tulisan gue yang teranyar selesai…
Kali ini gue mau nyeritain tentang sohib gue lagi waktu SMA, gue sengaja nih ngubek-ngubek arsip nasional, supaya isinya rada berbobot (sebenere yang kemaren ge berbobot sii, Efrin kan badannya guede Haha..)
Mari kita mulaiiiii…
Ehem..ehem..
Jadi, beliau ini bernama Ririn Heryanni (N-nya ada tiga). Kalo gak salah mah, dia rada Padang-padang gitu, tapi nama KTP-nya tipikal Sunda banget.. Kayak Kokom Sarikom, Mimin Surimin, Wawan Karyawan, Pedro Naredo.. de el el.. (Jadi inget jemen Amigos, “Agentu Ijo Amigos ek sempre”. Fakta : Pedro bukan orang sunda).
Sebenernya kita gak deket-deket amat (yang deket ama gue pada sedeng soalnya haha..), tapi beliau ini sangat berperan penting dalam menjaga stabilitas dan keamanan kelas (setipe densus 88 pokoknya), Ririn adalah…. Jreng-jreng, seorang SEKRETARIS KELAS!!! (Biar rada keren gue tambahin jadi Secretary defence, sebenere artinya mentri pertahanan, soalnya Ririn bisa galak en jutek banget, Piis ah… :P).
Rumah Ririn yang di Perum Karawang Indah (Ririn punya berapa rumah sih?) sering dipake anak-anak waspada (Warga IPA 2) mangkal buat latihan pensi en acara perpisahan. Jadi weh kalo ada anak-anak, perumahan yang tadinya sesunyi kuburan (C, A minor, D minor ke G), jadi rame kayak ada Super Junior lewat pake angkot tuparev.
Anyway…
Ririn ini lahir di.. Bukit Tinggi (dimana tuh..??) tanggal 1 September 1991, bentar lagi ultah nih.. Supaya gak lupa, gue turut berduka cita atas berkurangnya usia lu.. (samina mina ee, waka waka ee hee…).
(Fakta : tanggal 1 September adalah waktu dimana Harry Potter menaiki Hogwarts Express, juga waktu kuliah semester baru di UPI dimulai, tidak!! Masih pengen libur).
Sekarang Ririn lagi kuliah di Universitas Padjajaran aka. UNPAD (UNiversitas PAling Deket), tapi ngambil jurusan apa gue juga gak tw hehe.. (maklum arsip nasional gue datanya terbatas). Denger-denger di UNPAD ada Miss Zimbabwe 2008 tuh, makanan favoritnya Mie Baso (hiks, jadi inget pak Le, semoga kau tenang di sana, Alfatihah!! “baca suratnya!!”).
Selain terkenal dengan “strategi pertahanannya”, Ririn juga terkenal sebagai pewaris tunggal PT. Ririn Fotocopy Ltd. Hehe, makanya ada aja tuh anak-anak yang nitip fotokopi (ngarep dapat potongan harga), en barang-barang khas fotokopian lainnya, mulai dari stabilo, pulpen, notebook, panci, gallon, tali tambang dan lain-lain.
Ririn ini suka banget sama yang berbau korea, tapi yang korea selatan, mulai dari dramanya ampe tukang baso ikannya (ha.. yang terakhir boong). Padahal kalo gue sii lebih ngefans sama korea utara, soalnya lagi ngembangin teknologi nuklir haha… Bukan gimana-gimana, kan lebih baik kalo Timur (Korut) dan Barat (USA) seimbang,, Avatar Aang pernah berkata, “Dunia harus dalam keadan seimbang”. Asal gak dipake perang aza. (ngelantur Mode on selesai).
Sepatah dua patah kata dari Ririn :
“Nama w Ririn HeryanNi, orNg2 mAnGgiL w riRin... W Lahir di bUkiT TinGgi, 01 sep 1991...
Bnyk haL-haL peNtng y6 tErjdi dLm hDup w. Ya sEnenx, ya sDh, ada tawa, ada tanGis... SemUa haL y6 mEmbnGun dr w...
Msa kEciL y6 w hBs kn dSebUah rUmah keCiL y6 beRbagi dng tEmpt bOkap w nyari mKan UnTk kmi seKeLuarga... Sebuah tEmpt y6 bGi w adLh seBuah dUnia y6 terPiSah dr dUnia dLuar sna... Smpai dTik nie teMpat nie menjadi tEmpt menYimpan bnyk cerita...
DaLam hdUp w, w ga peRnh berfikir akn terLahir ke dUnia nie dng keadaAn y6 suLit... W j6 ga pRnh berfikr akn beSar dkoTa y6 ga pernh w tw sebLum'y.... Kota y6 memperkenL kn sebUah bhasa bru bGi w yaiTu b.sUnda... Kota y6 memperknL kn w pd suaTu pershbtan... N pd sebUah cinta..!!
Haha baru za w knaLan sama cinta, y6 kTa'y indah n bHagia, tBa2 w dpaksa bwd kenLn sma y6 nMa'y sakit hTi.... BeribU keCewa... Entah berapa Liter air mata y6 keLuar krn cinta... Tp meski bGitU W tTp mEnyimpan dy dHaTi w, menGukir indah nMa'y di sUduT hTi w... Agar tak ad y6 bSa merUbah ukiran indah nMa'y...
LeLaki y6 smpai dtik nie mSh sngt w synx... ^_^”
Source :
Personal Opinion :
Tulisan ini gue kopas dari profil pesbuknya Ririn. Bahhh,, pusing bacanya butuh 5 menit lebih supaya gue ngerti artinya, gue paling ribet baca kalo tulisan (maksudnya ketikan) diotak-atik. Tapi ya.. isinya dalem banget… setuju kann???!!
Maap banget kalo telat ngepostingnya, maklum kemaren lagi sibuk buad ujian… en maap juga kalo ada yang tersinggung. Namanya juga gokil-gokilan.. YAHA!!
Ciayoooo….
Hidup Rawamerta!!!
The Ballerina : Efrin

Hollaaa… Haha ini lah tulisan gue yang keempat..
Sebenere mandek nyari inspirasi, tapi berhubung ci efrin minta namanya dicantumin, yaa… sekalian aja gue bikini yang “agak” banyakan.
Jadi…
Gue kenal efrin pas kelas 2 SMA, itu juga pas gurunya ngabsenin satu-satu. Sebenere kita tetanggaan kelasnya pas kelas 1, tapi ya.. gitu deh ga engeh..
Selain efrin gue juga baru kenal sama Enchi, Via, Ike, Astri, Ririn, Culas, Euiz, (apa kabar???), Ali, Andam, Galih, Mas Yoga (gimana jogja?), Use-1 (maksud e yuswan), Faisal (semoga kau tenang di sana, we always pray for you), Dio, Wawa, Ayub , (Maapinn aku !!! T.T beneran baru kenal pas ono), , Siapa lagi ya?? (penyakit gue no.4 : ga engeh orang disekitar, terutama namanya).
Btw anyway cape deh wey, Ketua BEM BIO UPI juga, baru gue tahu 3 bulan lalu orangnya (mudah-mudah kang Hasbi gak baca nih tulisan, bisa habis gue.. yang laporan AWAS!! TUNGGU PEMBALASANKU!!!)
Pokok e… Efrin lahir di… kayaknya karawang (wong dia sekolah di karawang) … tanggal… halaa.. gue gak tahu… (selamat ulang tahun… walo belom ato malah udah kelewat) bokapnya TNI, ( apa polisi ya yang jelas bukan tukang somay).. truz tempat tinggalnya… haduuu.. kalo gak salah di adiarsa (apa klari ya??) Kuliahnya di UNJ psikologi kan?? (kok perasaan gue gak tahu apa-apa soal efrin).
Hobinya maen basket (keren maennya, serius lho), pake kaca mata, kalo ke sekolah naek motor (pastinya pake helm, kan bisa ditilang), tulisannya susah di baca , kalo bikin puisi dalem sihh, tapi gue gak pernah ngerti artinya (melankolis banget, gue kan sukanya yang ada CIAAATTT!!! TINJU!!! TENDANG!!! Kagebushin no jutsu!! Jurus hayam kekelepekan, de es be).
Pertama kali liad efrin, nii orang lucu banget, “bulet” kaya doraemon,, Haahaa (Pisss ahh)..
Tiba-tiba kayak di filmnya inception, gue jadi kayak punya ilham dari alam bawah sadar :
“coba efrin nari balet…” pasti seru!!! Haha.
Nah impian akyu yang aneh ini terkabul pas pensi kelas 3 (setahun kemudian, lah.. yang penting udah diijabah , thx for ria en ana), Di sebuah drama yang berjudu l…. (.. apa ya??) … anggap weh Reinkarnasi Tika yang imuzz banget..
Sumpah gokil berat pas efrin galih “si satpam” dwiwinardo (bener kan namanya?), nari balet (walo bentar, itu juga cuma loncat-loncat). Gue gak tahan buat ketawa.. Haha.. Makanya diem-diem gue julukin ci efrin, the ballerina man.. hihi..
Over all, efrin is a good friend… it’s lovely to know you.. Thanks a lot.. (Jiahhh… sok iye).
Pesen ini juga buat semua orang yang kenal gue, berhubung bentar lagi Ramadhan :
Ehem… ehem..
Meski gue kadang (ato sering) egois, nyebelin, ambekan, sinis de el el.. tapi sebenernya hati gue selembut sutra (cuma belom disetrika pake rapika, tapi kisspray wanginya juga enak, apalagi yang lavender. Tapi sekarang gue lebih sering pake Molto Ultra, soalnya semprotan gue rusak, macet tepatnya, ngebenerinnya gimana ya??? [ngelantur mode on])..
Intinya….
Maapin tika yaaa kawandddd… ga baik kan marah-marahan.
I love you all (terutama pak Tedy sama A. Situmorang).
Have nice your Ramadhan… terutama buat yang merayakan.
Kata-kata batu gosok (gak punya mutiara gue, padahal yang lain udah beli citra cap mutiara berkilau):
“Pilihan kita lah yang menentukan sebenarnya kita, lebih dari kemampuan kita. Seorang pengecut bisa menjadi berani jika dia memilih melawan, seorang yang bodoh bisa menjadi pintar jika ia memilih belajar, seorang yang hidup akan mati jika ia memilih demikian”.
(Albus Dumbledore, The Chamber of Secret-dengan perubahan semau gue-).
Buah semangka buah melon
Buah stroberi buah apel
Itulah buah-buahan.. LOL
Udahan ah… See you, in vol.5..
Thx 4 reading, jangan lupa dikomen, teruama buat efrin (maap lagi yaa.. kalo ada salah-salah kata, efrin kan baik hati, ramah, tidak sombong dan rajin menabung). Hihi, fitnah lebih kejam dari pembunuhan.
Senin, 26 Juli 2010
PROLOG

Maret, 10 tahun yang lalu
Sakit . . .
Itulah yang bisa terlihat dari ekspresi remaja-remaja ini saat di bawa ke rumah sakit terdekat. Beberapa dengan luka bakar yang cukup parah, kening berdarah, gigi copot dan tulang retak. Rasanya seperti mimpi buruk, melihat anak-anak yang awalnya begitu semangat bertanding, kini merintih kesakitan di ruang UGD. Ingin rasanya ia saja yang di posisi mereka, ini salahnya karena terlalu menganggap sepele urusan transportasi. Seharusnya ia menyiapkan segalanya, memeriksa tiap detail, memastikan semua baik-baik saja. Tapi ia malah melewatkan hal vital itu hanya demi perempuan yang telah membuatnya malu.
“Pak Timo,” kata suara lembut perempuan tua di sampingnya.
“Sudahlah pak, jangan terlalu menyalahkan diri sendiri,” lanjutnya.
“Tapi ini salah saya, seharusnya saya tidak langsung ke Bandung sebelum memastikan semuanya, semua gara-gara supir busuk itu. Udah tau jalannya curam, bisa-bisanya ngantuk,” kata pria itu marah
“Dari sana ke Bandung kan cukup jauh pak, wajar kalau ia kelelahan,” kata wanita itu lagi
“Anda memang terlalu baik, bu kepala sekolah, tapi lihat anak-anak sekarang. Terluka, berdarah-darah, mereka perwakilan kabupaten , Bu An. Tapi sekarang? …”
Pak Timo tampaknya tak bisa berkata-kata lagi, wajahnya yang biasa tersenyum kini kian terpuruk dalam penyesalan. Dia menghela nafas.
“Saya yang melatih mereka, dari nol. Sakit sekali melihat mereka seperti sekarang, mau mati saja rasanya,” kata pak TImo putus asa
“Astagfirullah, Pak. Istigfar, ini musibah yang tidak bisa kita perkirakan sebelumnya. Siapa saja bisa mengalaminya. Jangan bapak berfikiran sempit begitu,” kata Bu An geleng-geleng.
“Saya tahu, bu. Tapi bayangkan wajah mereka. Mereka sudah berlatih dan menyiapkan segalanya selama berminggu-minggu. Entah bagaimana rasanya jika mereka mengetahui kalau mereka diganti…”
“Di ganti?” kata suara laki-laki serak
Pak Timo dan Bu Kepala Sekolah sontak kaget. Ternyata seoarang remaja laki-laki kurus yang berkata.
“Apa maksud bapak diganti?” katanya keras sampai orang-orang di sekeliling UGD tertarik melihat.
“Akbar? Kamu ngapain di luar, cepat masuk!” kata Pak Timo
“Saya gak mau masuk sebelum bapak ngejelasin semuanya, apa maksudnya diganti? Yang menang di kejuaran kabupaten itu kami, Pak!,” teriak Akbar marah
Dengan kepala yang masih diperban, Akbar memelototi pelatih dan kepala sekolahnya.
“Saya tahu, tapi dengar dulu nak, masalahnya ga sesederhana itu,” kata kepala sekolah memulai.
“Dengan kondisi kalian yang sekarang, kalian tidak mungkin ikut perlombaan. Tadi pagi, ibu dapat telepon dari pemda, dan pihak yang bersangkutan menginginkan …..urm… adanya perubahan dari segi pesertanya,” lanjut ibu kepala sekolah tampak memilih-milih kata.
“Apa SMA Pelita, SMA itu?” kata Akbar keras lagi. Wajahnya diliputi shock , amarah dan kecewa. Perjuangannya dan teman-temanya selama ini harus sia-sia. Padahal mereka sudah begitu dekat dengan tunamen yang mereka impikan.
“Gak mungkin,” kata suara lain, kali ini suara perempuan, suaranya pelan sampai hampir seperti bisikan.
“Yang menang kan kami pak waktu di kabupaten, mereka cuma runner up!” katanya emosi.
Tampaknya teriakan Akbar barusan juga telah menarik perhatian anggota lain. Pintu UGD sudah terbuka lebar, anak-anak mulai menjejalkan diri keluar pintu UGD dengan perlahan.
“Ya ampun, Retno. Kenapa kamu ikutan keluar. Kalian lagi kenapa ke luar juga?,” kata Pak Timo tak habis fikir. Anak-anak didikannya ini memang “terlalu” korsa untuk ukuran anak SMA.
“Retno bener . Apa Ibu sama Bapak masih ragu sama kami. Apa ibu gak liat kalau kami udah latihan keras selama ini,” kata anak laki-laki lain di belakang Akbar. Semua temannya menyahut setuju, sehingga ruang UGD saat itu tampak seperti dikerumuni demonstran.
“Ibu udah jelasin sama Akbar, kalian tidakk dalam kondisi yang cukup fit untuk jadi partisipan. Tapi bagaimanapun Pemda harus mengirimkan perwakilannya ke turnamen itu,” kata Bu An menjelaskan.
“Oh, jadi Pemda sialan itu ngebuang kami yang udah ngeharumin namanya, terus make SMA runner up konyol itu,” kata Akbar lagi.
“Bagaimanapun Pemda kabupaten kita tetap bertanggung jawab pada pihak panitia. Mereka gak mungkin tidak mengirimkan perwakilan mereka, tolong mengerti lah, masih ada kesempatan lagi” kata Pak Timo
“Bukannya bapak sendiri yang bilang, kalau kita harus mencari kesempatan bukan mengunggunya. Kami masih mampu ikut andil, Pak. Jangan sepele kan kami, bahkan meskipun kami terbaring sekarat di tempat tidur reyot rumah sakit ini, kami akan tetap menuju lapangan,” kata Akbar kukuh
“Kami gak rela, Pak. Meski kami harus jalan kaki sampai ke lapangan itu, kami pasti tetap bisa tampil besok,” kata Retno sambil menangis.
“Astagfiullah, kalian ini. Bapak mengkhawatirkan kalian. Kenapa kalian ga bisa ngerti. Sudah, bapak gak mau dengar protes kalian lagi sekarang semuanya masuk ke UGD, kalau engga bapak bersumpah ga akan mengizinkan kalian mengikuti lomba apapun, faham!!” kali ini Pak Timo benar-benar marah.
“bapak gak berhak ngelakuin itu!!!”
“Gak berhak !? Liat saja bapak bisa melakukan apapun hanya agar kalian patuh, sekarang MASUK!!!”
Anak-anak tak ada lagi yang melawan. Akbar, Retno da teman-temannya masuk kembali ke UGD.
Gara-gara keributan tadi, suasana begitu tegang. Dokter dan suster pun tak ada yang berani bergerak. Setelah anak-anak kembali ke tempat yang disediakan, dokter dan suster itu mulai kembali memeriksa dan melakukan perawatan.
“Akbar, gimana nih?,” bisik Retno sambil terisak
“Kita gak akan mundur,” kata Akbar yakin. “Siapin barang-barang, obat dan juga makanan. Aku punya rencana,” kata Akbar
Akbar melihat ke teman-teman di sekelilingnya. Mereka sudah terbiasa berkomunikasi dengan tatapan dan bisikan, sehingga tidak sulit baginya untuk menyampaikan niatnya. Semua temannya, meski sekilas supaya tidak ketahuan, mengagguk setuju ke arahnya.
“Begitu dokter sama suster konyol ini pergi, kita mulai,” katanya pelan
Akbar tahu, dan teman-temannya pun sama, masih ada kesempatan. Mereka tak kan mundur setelah begitu dekat . Meskipun harus melawan pak Timo, pelatih yang diam-diam dikaguminya, Ibu kepala sekolah, Pemerintah Daerah bahkan Pemerintah Provinsi, ia dan teman-temannya tak kan menyerah untuk mendapat piala cemerlang itu. Impian dan cita-cita pasukannya.
“Kita pasti bisa,” katanya daam hati sambil menggenggam erat tangan Retno.
Langganan:
Komentar (Atom)






