Powered By Blogger
Tampilkan postingan dengan label Piala Berdarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Piala Berdarah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 Agustus 2010

2. Senior menyebalkan (Renata)



Hari yang ditunggu-tunggu Renata akhirnya tiba. Dia tidak percaya akan sebegitu dekat dengan Januar, cowok yang ditaksirnya sejak SMP. Keputusunnya untuk masuk ekskul Paskib pastinya akan berdampak besar untuknya. Tapi ya.. biarlah segalanya adil dalam cinta dan perang katanya dalam hati sambil tersenyum.

“Ngapain lu senyam-senyum sendiri, aneh tahu,” kata Hermy.
“Ya ampun Hermy sayang, hari ini kan gua bakal ketemu sama my Januar,” kata Renata dengan mata bersinar-sinar.
“Tiap hari kan ketemu”
“Ini tuh beda tahuuu, lu sih enak sekelas sama dia, lha gue, jarak ampe tiga kelas gitu,” kata Renata lagi. Hermy dan Januar ditempatkan di kelas X-1 sedangkan Renata di kelas X-4.

“Emang bukan rezekinya lu kali. Udah yuk, entar diomelin sama sesepuh”, kata Hermy.
“Sesepuh?” kata Renata
“Sapa lagi kalo bukan kak Rara sama kak Oki, ampe mudeng gue dengernya” kata Hermy.

Mereka berdua pun meninggalkan toilet perempuan dan langsug berbaris ke lapangan.
Hari itu cuaca sangat panas. Keringat Renata tak mau berhenti keluar. Tapi anehnya, Renata melihat Hermy cuek-cuek saja, meskipun terlihat betul wajah Hermy sampai memerah saking panasnya. Renata yakin, tampangnya gak terlalu berbeda.

“Nah, ade-ade sekalian. Selamat datang di ekskul Paskibra SMA Harapan. Saat ini, kalian tengah berdiri di tengah lapangan yang akan menjadi saksi kesuksesan kalian kelak. Kalian telah tiba pada tahapan baru, tahapan dimana kalian dituntut untuk menjadi lebih baik dan lebih dewasa. Tetapi kebiasaan-kebiasaan lama yang memang dibutuhkan, akan kami bantu untuk lestarikan, sedangkan kebiasaan baru yang tidak disiplin, tanpa etika dan tidak bertanggung jawab akan kami pangkas. Selain itu, …,”

Renata tak sanggup lagi memperhatikan pidato panjang sesepuhnya. Fikirannya jauh melayang ke arah Januar di dua baris sebelah kanannya. Bagaimana Januar tersenyum, bagaimana Januar berjalan, bagaimana ia tampak keren dengan kaos olah raga dan celana trainingnya… Haaa.. Renata menghela nafas, bagaimana Januar bisa begitu menawan.

Sesekali ia melirik Hermy yang berdiri disebelahnya. Hermy tampaknya melahap semua perkataan senior itu. Tapi dia langsung mengernyit jika mendengar kata-kata yang tidak sesuai dengan seleranya.

Renata kemudian berfikir, sebenarnya mereka datang kemari untuk latihan atau untuk diceramahi sih?. Gak jelas mana yang bener.

“Renata Saputri !,” kata sebuah suara

Latihan ini bener-bener konyol. Hermy benar seharusnya dia tidak bergabung dengan ekskul ini. Gue juga konyol banget, fikir Renata.

“Renata Saputri !,” kata sebuah suara lagi
Hanya tentara barangkali yang bisa menyaingi cara latihan mereka. Mungkin latihan mereka bahkan lebih baik dibandingkan ini.

“RENATA SAPUTRI !!!!,”

“Apaan sih?!” kata Renata.
Semua mata melihat ke arah Renata. Dilihatnya sesepuh alias senior yang berpidato tadi melotot ke arahnya sambil menahan amarah.

“Kamu tidak memperhatikan perkataan saya?!!,” kata kak Rara kesal.
“Siap! Saya dengar kok kak,” kata Renata.
“Begitu ?” katanya gak percaya.
“Kalau begitu sekarang sebutkan tiga hal yang menjadikan seseorang menjadi paskibra!” perintah kak Rara galak.

Mampus gue, ngedengerin aja enggak. Dengan penuh harap dia melirik ke arah Hermy. Tapi tampaknya Hermy juga tidak bisa berbuat apa-apa. Apa boleh buat, kali ini Renata harus benar-benar memeras otaknya.

“Urm, kedisiplinan, kebersamaan dan … ,” kata Renata ngarang. Tiba-tiba dilihatnya Hermy melotot seolah berkata : Berhenti bicara sekarang!
“SALAH!!! Untuk menjadi paskibra hanya butuh satu hal. Mencintai bangsa dan negaranya. Jelas sekali kamu tidak mendengarkan kata-kata saya tadi, Push-up sekarang dua puluh kali” kata kak Rara murka.

Kali ini Renata benar-benar pasrah. Dengan enggan ia push up, meski rasanya sejak awal badannya sudah mau rontok.

1. Ini bukan pilihanku (Hermy)



Hermy menatap sinis, teman-teman barunya. Mereka yang laki-laki, memakai kalung cabe di sepanjang tali papan namanya dan memakai topi kerucut aneh warna biru. Sedangkan yang perempuan, rambutnya dikepang banyak dengan papan nama yang talinya penuh bawang, serta topi kerucut dari karton pink. Benar-benar aneh, pikirnya.

Hermy memang tidak suka segala sesuatu yang serba meriah semacam MOS. Dia lebih suka mengurung diri, menyetel music metal sampai sekeras-kerasnya di kamar. Diantara semua temannya, hanya dia yang tidak memakai semua ornamen yang suruh senior nya. Dia sudah tiga kali ditegur oleh seniornya selama MOS ini. Tapi tak satu pun yang benar-benar menghukumnya. Yah wajar saja, toh dia ini anak semata wayang kepala sekolah SMA Harapan.

Dia benci sekolah ini, bagus diluar tapi busuk di dalam ditambah lagi dengan sikap sok baik ayahnya, yang ingin terlihat sebagai kepala sekolah teladan. Dia ingin bebas dari kepura-puraan ini dan pergi ke SMA idamannya, SMA Pelita.

“Udah donk, Mi, bĂȘte mulu kerjaan lho,” kata Renata
“Berisik lu, gue lagi gak mood tau,” kata Hermy sinis.
“Emangnya sejak kapan lu pake mood-moodan gitu, bukanya tiap hari juga lu gak pernah mood,” kata Renata cekikikan. “Eh, liat ada Januar. Adu, ganteng banget,” kata Renata
“Lu masih ngebet sama tuh orang. Ceking kayak gitu juga,” bales Hermy.
“Yah, lu mah ngeliat tuh pake mata doank sii,” kata Renata sebal
“Terus apa? Pake hati lagi? Batin? Kalbu? Teropong? Atau Teleskop?,” balas Hermy.
“Nggak, pake sedotan hehe,” kata Renata lagi

Mereka berdua tertawa terbahak-bahak. Hermy memang sudah sahabatan sama Renata sejak SD, bisa dibilang Renata adalah satu-satunya. Meskipun Hermy tergolong pandai dan terampil dalam hampir setiap bidang, tapi dia tidak pandai bergaul. Sebagian besar orang menjauhinya karena sikapnya yang tidak ramah terhadap orang lain serta cenderung sinis dan sarkastik. Begitu lah Hermy, dia tak tahan harus pura-pura baik di depan orang.

Tapi Renata selalu baik padanya, meskipun Hermy seringkali bersikap buruk. Hermy sangat menyayangi temannya yang satu ini, yang meski kadang menyebalkan tapi seringkali menghiburnya saat ia sedang sedih.

Sifatnya dengan Renata sangat berbeda, Renata yang meskipun agak centil sangat popular terutama di kalangan cowok. Ia cantik dan selalu ceria. Mungkin itu yang menjadikannya popular, pikir Hermi agak iri.

“Eh, kira-kira Januar masuk ekskul apa ya?” kata Renata
“Paskib”, jawab Hermy cuek.
“Paskib?!, Paskibra maksud lo?,” kata Renata tidak percaya.
“Bokapnya kan polisi, lagian dia emang pengen banget dari dulu masuk paskibra,” kata Hermy, yang memang masih saudara dengan Januar.
“Lu tahu darimana? Waktu SMP kan dia aktif banget di tim baket sekolah, kenapa sekarang tiba-tiba mau ke paskib?”
“Mana gue tahu, terserah dia kan mau masuk mana”, kata Hermy
“Kalo gitu gue ikutan paskib juga ah”, kata Renata

Hermy memandang Renata tidak percaya. Seakan Renata baru memutuskan menjadi petinju.
“Lu ikutan paskib, orang cuma berdiri di lapangan juga lu suka pingsan,” kata Hermy.
“Kan terserah gue mau masuk mana hehe,” kata Renata cekikan, membalas Hermy.

Bel berbunyi menandakan waktu istirahat selesai. “Yuk, kita ke kelas,” kata Renata
Hermy pun mengikutinya ke kelas sambil menghela nafas. Dia tidak yakin bisa bertahan melewati tiga tahun di tempat ini. Dia bahkan tidak yakin bisa bertahan tiga jam ke depan.

Senin, 26 Juli 2010

PROLOG


Maret, 10 tahun yang lalu


Sakit . . .

Itulah yang bisa terlihat dari ekspresi remaja-remaja ini saat di bawa ke rumah sakit terdekat. Beberapa dengan luka bakar yang cukup parah, kening berdarah, gigi copot dan tulang retak. Rasanya seperti mimpi buruk, melihat anak-anak yang awalnya begitu semangat bertanding, kini merintih kesakitan di ruang UGD. Ingin rasanya ia saja yang di posisi mereka, ini salahnya karena terlalu menganggap sepele urusan transportasi. Seharusnya ia menyiapkan segalanya, memeriksa tiap detail, memastikan semua baik-baik saja. Tapi ia malah melewatkan hal vital itu hanya demi perempuan yang telah membuatnya malu.

“Pak Timo,” kata suara lembut perempuan tua di sampingnya.

“Sudahlah pak, jangan terlalu menyalahkan diri sendiri,” lanjutnya.

“Tapi ini salah saya, seharusnya saya tidak langsung ke Bandung sebelum memastikan semuanya, semua gara-gara supir busuk itu. Udah tau jalannya curam, bisa-bisanya ngantuk,” kata pria itu marah

“Dari sana ke Bandung kan cukup jauh pak, wajar kalau ia kelelahan,” kata wanita itu lagi

“Anda memang terlalu baik, bu kepala sekolah, tapi lihat anak-anak sekarang. Terluka, berdarah-darah, mereka perwakilan kabupaten , Bu An. Tapi sekarang? …”

Pak Timo tampaknya tak bisa berkata-kata lagi, wajahnya yang biasa tersenyum kini kian terpuruk dalam penyesalan. Dia menghela nafas.

“Saya yang melatih mereka, dari nol. Sakit sekali melihat mereka seperti sekarang, mau mati saja rasanya,” kata pak TImo putus asa

“Astagfirullah, Pak. Istigfar, ini musibah yang tidak bisa kita perkirakan sebelumnya. Siapa saja bisa mengalaminya. Jangan bapak berfikiran sempit begitu,” kata Bu An geleng-geleng.

“Saya tahu, bu. Tapi bayangkan wajah mereka. Mereka sudah berlatih dan menyiapkan segalanya selama berminggu-minggu. Entah bagaimana rasanya jika mereka mengetahui kalau mereka diganti…”

“Di ganti?” kata suara laki-laki serak
Pak Timo dan Bu Kepala Sekolah sontak kaget. Ternyata seoarang remaja laki-laki kurus yang berkata.

“Apa maksud bapak diganti?” katanya keras sampai orang-orang di sekeliling UGD tertarik melihat.

“Akbar? Kamu ngapain di luar, cepat masuk!” kata Pak Timo

“Saya gak mau masuk sebelum bapak ngejelasin semuanya, apa maksudnya diganti? Yang menang di kejuaran kabupaten itu kami, Pak!,” teriak Akbar marah

Dengan kepala yang masih diperban, Akbar memelototi pelatih dan kepala sekolahnya.
“Saya tahu, tapi dengar dulu nak, masalahnya ga sesederhana itu,” kata kepala sekolah memulai.

“Dengan kondisi kalian yang sekarang, kalian tidak mungkin ikut perlombaan. Tadi pagi, ibu dapat telepon dari pemda, dan pihak yang bersangkutan menginginkan …..urm… adanya perubahan dari segi pesertanya,” lanjut ibu kepala sekolah tampak memilih-milih kata.

“Apa SMA Pelita, SMA itu?” kata Akbar keras lagi. Wajahnya diliputi shock , amarah dan kecewa. Perjuangannya dan teman-temanya selama ini harus sia-sia. Padahal mereka sudah begitu dekat dengan tunamen yang mereka impikan.

“Gak mungkin,” kata suara lain, kali ini suara perempuan, suaranya pelan sampai hampir seperti bisikan.

“Yang menang kan kami pak waktu di kabupaten, mereka cuma runner up!” katanya emosi.
Tampaknya teriakan Akbar barusan juga telah menarik perhatian anggota lain. Pintu UGD sudah terbuka lebar, anak-anak mulai menjejalkan diri keluar pintu UGD dengan perlahan.

“Ya ampun, Retno. Kenapa kamu ikutan keluar. Kalian lagi kenapa ke luar juga?,” kata Pak Timo tak habis fikir. Anak-anak didikannya ini memang “terlalu” korsa untuk ukuran anak SMA.

“Retno bener . Apa Ibu sama Bapak masih ragu sama kami. Apa ibu gak liat kalau kami udah latihan keras selama ini,” kata anak laki-laki lain di belakang Akbar. Semua temannya menyahut setuju, sehingga ruang UGD saat itu tampak seperti dikerumuni demonstran.

“Ibu udah jelasin sama Akbar, kalian tidakk dalam kondisi yang cukup fit untuk jadi partisipan. Tapi bagaimanapun Pemda harus mengirimkan perwakilannya ke turnamen itu,” kata Bu An menjelaskan.

“Oh, jadi Pemda sialan itu ngebuang kami yang udah ngeharumin namanya, terus make SMA runner up konyol itu,” kata Akbar lagi.

“Bagaimanapun Pemda kabupaten kita tetap bertanggung jawab pada pihak panitia. Mereka gak mungkin tidak mengirimkan perwakilan mereka, tolong mengerti lah, masih ada kesempatan lagi” kata Pak Timo

“Bukannya bapak sendiri yang bilang, kalau kita harus mencari kesempatan bukan mengunggunya. Kami masih mampu ikut andil, Pak. Jangan sepele kan kami, bahkan meskipun kami terbaring sekarat di tempat tidur reyot rumah sakit ini, kami akan tetap menuju lapangan,” kata Akbar kukuh

“Kami gak rela, Pak. Meski kami harus jalan kaki sampai ke lapangan itu, kami pasti tetap bisa tampil besok,” kata Retno sambil menangis.

“Astagfiullah, kalian ini. Bapak mengkhawatirkan kalian. Kenapa kalian ga bisa ngerti. Sudah, bapak gak mau dengar protes kalian lagi sekarang semuanya masuk ke UGD, kalau engga bapak bersumpah ga akan mengizinkan kalian mengikuti lomba apapun, faham!!” kali ini Pak Timo benar-benar marah.

“bapak gak berhak ngelakuin itu!!!”

“Gak berhak !? Liat saja bapak bisa melakukan apapun hanya agar kalian patuh, sekarang MASUK!!!”
Anak-anak tak ada lagi yang melawan. Akbar, Retno da teman-temannya masuk kembali ke UGD.

Gara-gara keributan tadi, suasana begitu tegang. Dokter dan suster pun tak ada yang berani bergerak. Setelah anak-anak kembali ke tempat yang disediakan, dokter dan suster itu mulai kembali memeriksa dan melakukan perawatan.

“Akbar, gimana nih?,” bisik Retno sambil terisak
“Kita gak akan mundur,” kata Akbar yakin. “Siapin barang-barang, obat dan juga makanan. Aku punya rencana,” kata Akbar

Akbar melihat ke teman-teman di sekelilingnya. Mereka sudah terbiasa berkomunikasi dengan tatapan dan bisikan, sehingga tidak sulit baginya untuk menyampaikan niatnya. Semua temannya, meski sekilas supaya tidak ketahuan, mengagguk setuju ke arahnya.
“Begitu dokter sama suster konyol ini pergi, kita mulai,” katanya pelan

Akbar tahu, dan teman-temannya pun sama, masih ada kesempatan. Mereka tak kan mundur setelah begitu dekat . Meskipun harus melawan pak Timo, pelatih yang diam-diam dikaguminya, Ibu kepala sekolah, Pemerintah Daerah bahkan Pemerintah Provinsi, ia dan teman-temannya tak kan menyerah untuk mendapat piala cemerlang itu. Impian dan cita-cita pasukannya.

“Kita pasti bisa,” katanya daam hati sambil menggenggam erat tangan Retno.